Rabu, 26 Februari 2014

 

ULAMA ASWAJA ULAMA PILIHAN TERBAIK ALLAH SWT

Mayoritas ulama sedunia berakidah Ahlussunnah wal Jama'ah (ASWAJA) dan sekarang terkumpul dalam Empat Imam Madzhab (Maliki, Syafi'i, Hanafi, dan Hanbali), bukan "Manhaj Salaf". Mereka adalah ulama-ulama pilihan terbaik Allah SWT dan Dia tidak mengumpulkan ulama-ulama-Nya berada dalam kesesatan. Sabda Rasulullah SAW (hadits hasan dari jalur Ibnu Umar):

ان الله تعالى لا يجمع أمتي على ضلالة , و يد الله على الجماعة , و من شد شد الى النار

Artinya:
"Sesungguhnya Allah ta'ala tidak mengumpulkan ummat (maksudnya ulama di kalangan ummat)-ku atas kesesatan. Dan kekuatan Allah berada atas jama'ah (ulama Ahlussunnah wal Jama'ah). Barangsiapa menyendiri (keluar dari jama'ah), maka akan bertempat di neraka."
{Keterangan dari kitab "Faidhul Qadir Syarah Al-Jami' Ash-Shaghir min Ahaditsi Al-Basyir An-Nadzir" karya Imam Muhammad Abdur Ra'uf Al-Munawi, jilid 2 halaman 271, cetakan "Darul Fikr", Beirut, Libanon}.

Dengan demikian, ta'at kepada ulama Ahlussunnah wal Jama'ah berarti ta'at kepada Allah. Sedangkan memisahkan diri dari jama'ah Ahlussunnah wal Jama'ah (Maliki, Syafi'i, Hanafi, dan Hanbali), berarti matinya tidak diridhoi Allah dan matinya dalam keadaan mati jahiliyah, sebagaimana tersebut di dalam kitab "Nihayatul Arab fi Fununil Arab" karya Syeikh Syihabuddin Ahmad biin Muhammad an-Nuwairi jilid 6 halaman 12 cetakan Mesir, Rasulullah SAW bersabda dari jalur Abu Hurairah ٌِRA sebagai berikut:

من خرج من الطاعة و فارق الجماعة ثم مات مات ميتة جاهلية

Artinya:
"Barangsiapa keluar dari jalur ketaatan kepada Allah SWT dan memisahkan diri dari golongan Ahlussunnah wal Jama'ah (ASWAJA), jika suatu saat nanti ia mati (sebelum taubat), maka matinya dalam keadaan mati Jahilihiyyah."

Perlu diketahui bahwa ada tiga ciri golongan Ahlussunnah wal Jama'ah, yaitu:
 
1. Dalam ilmu fiqih menganut kepada salah satu Empat Imam Madzhab (Maliki, Syafi'i, Hanafi, dan Hanbali).

2. Dalam ilmu tauhid (aqidah / aqa'id / ushuluddin) menganut kepada Imam Abul Hasan Al-Asy'ari (260-324 H. / 873-935 M.) dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi (239-333 H. / 853-944 M.), bukan menganut kepada aqidah Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri Wahabisme (1111-1206 H. / 1701-1793 M.).

3. Dalam Ilmu Tasawuf menganut kepada Imam Al-Junaidi Al-Baghdadi (wafat 297 H. / 910 M.), Imam Abul Hasan Asy-Syadzili (591-656 H. / 1195-1258 M.), dan Imam Al-Ghozali (450-505 H. /1058-1111 M.) .

Sumber : KH. Thobary Syadzily

IMAM SYAFI'I MENDO'AKAN ORANG MENINGGAL

IMAM SYAFI'I MENDO'AKAN ORANG MENINGGAL
==============================

Ketika ada orang meninggal, Imam Syafi'i melawat dan menghadirinya. Kemudian, beliau mendo'akan di hadapan jenazahnya. Hal itu diterangkan di dalam kitab "Adab asy-Syafi'i wa Manaqibuhu", karya al-Imam al-Jalil Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Razi (wafat 327 H.), halaman 63, cetakan "Darul Kutub al-'Ilmiyyah", Beirut - Libanon sebagai berikut (lihat tulisan di foto !):

أخبرنا أبو الحسن , أنا أبو محمد , حدثنا أبي , قال : أخبرني يونس , قال : سمعت الشافعي و حضر ميتا , فلما سجينا عليه نظر اليه , فقال : اللهم بغناك عنه و فقره اليك , اغفر له

Artinya:
=====

Telah mengkabarkan kepada kami Abul Hasan, (Aku) Abu Muhammad, telah menceritakan kepada kami bapakku, dia berkata: Telah mengkabarkan kepadaku Yunus, dia berkata: Saya mendengar Imam Syafi'i dan beliau menghadiri orang meninggal (mayit). Kemudian, ketika beliau membuka pakaian yang menjadi tutup di wajahnya, maka beliau memandang wajahnya lalu mendo'akannya: Ya, Allah ! Dengan kekayaan-Mu darinya dan kefaqirannya untuk-Mu, maka ampunilah dia !


Sumber : KH. Thobary Syadzily